1. Bagaimana agama bisa menjadi faktor demografi yang sangat penting, sedangkan faktanya praktek keagamaan dipengaruhi pula oleh budaya ? misal peci adalah penutup kepala bagi pria muslim Indonesia, sedangkan di Timur-tengah penutup kepala bagi pria muslim adalah sorban.

2. Bagaimana perilaku konsumen yang mempunyai pendapatan tinggi namun dengan kelas sosial yang rendah ? contohnya: pedagang siomay keliling dengan pendapatan 10 juta perbulan

3. Jika suatu perusahaan ingin menawarkan produk pada suatu kelompok (misalnya fans Formula 1) yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang memiliki budaya yang berbeda-beda, bagaimana perusahaan tersebut dalam melakukan strategi penawaran ?

 

Tubuh manusia tersusun dari 46 kromosom yaitu seperti balok-balok bangunan mainan genetika atau sebuah cetak biru. Dua puluh tiga kromosom berasal dari ibu kita dan 23 lainnya dari ayah kita. Jika kromosom ke-23 ibu kita adalah kromosom X dan jika kromosom ke-23 ayah kita juga X, maka janin  hasil dari pertemuan itu adalah bayi XX, yaitu bayi perempuan. Jika kromosom ke-23 ayah kita adalah Y maka janin yang diperoleh adalah bayi XY yang akan menjadi seorang anak laki-laki. Pola dasar bagi tubuh manusia otaknya adalah betina (kita semua bermula sebagai anak perempuan) maka karena itulah pria memiliki ciri-ciri wanita seperti puting dan kelenjar susu. Pada usia 6 hingga 8 setelah pembuahan janin itu tidak berjenis kelamin dan memiliki kemungkinan untuk mengembangkan alat kelamin baik sebagai betina maupun jantan.

Seorang ilmuwan  Jerman dan seorang pemuka ilmu pengetahuan sosial Dr Gunther Dorner adalah salah satu dari orang pertama yang mengeluarkan teori bahwa identitas gender terbentuk saat usia janin 6 hingga 8 minggu setelah pembuahan. Penelitiannya menunjukkan bahwa jika janin itu pria (dengan kromosom XY), akan mengembangkan sel khusus yang mengatur sejumlah besar hormon jantan, terutama testosteron, diseluruh tubuh untuk membentuk testis jantan dan menyusun otak berciri-ciri dan perilaku jantan seperti penglihatan jarak jauh dan keterampilan ruang yang berguna dalam melempar, berburu, dan  mengejar buruan.

Sebut saja bahwa seorang janin jantan (kromosom XY) membutuhkan setidaknya satu unit hormon jantan untuk membentuk alat kelamin jantan dan tiga unit lagi untuk menyusun otak dengan sistem operasi jantan, tetapi tidak mendapatkan jumlah yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Misalnya, janin tersebut membutuhkan empat unit tetapi hanya mendapatkan tiga unit. Unit pertama digunakan untuk membentuk alata kelamin jantan tetapi otak menerima hanya dua unit. Ini artinya otak hanya mendapatkan 2/3 jantan dan 1/3 masih betina. Akibatnya, bayi laki-laki tersebut akan dilahirkan dan akan berkembang menjadi seorang anak pria yang memiliki kecenderungan otak pria, tetapi memiliki beberapa pola pikiran dan kemampuan wanita. Jika  janin jantan hanya mendapatkan dua unit hormon jantan, satu digunakan untuk membentuk testis, maka otak hanya akan mendapatkan satu unit juga, bukan tiga unit. Seorang bayi yang otaknya masih cenderung wanita dalam pola berpikir, tetapi bertubuh wanita dalam pola berpikir, tetapi bertubuh pria. Ketika masa pubertas tiba, anak pria ini akan cenderung menjadi homoseksual. Ketika janin itu adalah seorang wanita (kromosom XX), hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali hormon pria sehingga tubuhnya membentuk alat kelamin wanita dan pola pikirannya juga wanita. Kemudian otaknya akan terbentuk dengan hormon betina dan mengembangkan sifat-sifat pelindung sarang, termasuk sistem syaraf untuk mengerti tanda-tanda lisan maupun non-lisan. Ketika bayi perempuan lahir, dia akan tampak seperti wanita dan perilakunya akan menjadi bersifat wanita sebagai akibat otak yang tersusun sebagai wanita. Tetapi kadang-kadang karena kejadian luar biasa, janin betina menerima banyak dosis hormon jantan, amak hasilnya akan terlahir seorang bayi wanita dengan kecenderungan lebih besar atau lebih kecil daripada otak laki-laki.

Diperkirakan bahwa kira-kira 80% hingga 85% janin pria memiliki otak tersusun pria dan kira-kira 15% hingga 20% memiliki otak yang cenderung lebih besar atau lebih kecil menjadi bersifat wanita. Banyak orang yang terlahir seperti ini akan menjadi gay atau homoseksual. Sedangkan 90% anak perempuan dan wanita yang otaknya tersusun untuk perilaku seperti wanita. Sekitar 10% dari wanita memilki otak yang tersusun dengan kecenderungan lebih sedikit atau lebih banyak dengan kemampuan jantan karena menerima jumlah hormon jantan pada usia 6 hingga 8 minggu setelah pembuahan.

 

Referensi:

Allan, Barbara P. 2005. Why Men don’t listen and Women can’t Read Maps. Jakarta: Ufuk Pr.

Brizendine L. 2006. The Male Brain. Jakarta: Ufuk Pr.

Dorner G. 1975. Perinatal hormone levels and brain organization. Anatomical neuroendocrinology  245–252.

k

ARREZA HAMSYAH FERNANDA (G34100037)

Undergarduate Student Majoring in Biology Dept of Biology, Faculty of Mathematics and Natural  Sciences, Bogor Agricultural University

Notes On Consumer Behavior Class IKK 231

Teori Kepribadian

Terdapat 3 teori kepribadian yaitu Teori Kepribadian Freud, Teori Kepribadian Neo-Freud, dan Teori Ciri. Teori pertama  yaitu Teori Kepribadian Freud yang dicetuskan oleh Sigmund Freud. Teori Kepribadian Freud menjelaskan bahwa kebutuhan yang tidak didasari di dalam diri manusia dan kebutuhan biologis adalah inti dari motivasi dan kebutuhan manusia. Menurut Sigmund Freud terdapat 3 aspek yang menopang sebuah kepribadian konsumen yaitu Id, superego, dan ego. Id merupakan sebuah aspek yang menyangkut unsur/aktivitas biologis seperti nafsu. Superego adalah aspek yang menyangkut psikologis manusia. Superego berperan sebagai pengendali Id dan menyeimbangkan antara hal positif dan negatif. Ego pada dasarnya adalah hal yang positif. Ego bersifat netral terhadap id maupun superego. Teori kedua yaitu Teori Kepribadian Neo-Freud. Teori Neo-Freud mencakup unsur sosial dan psikologi. Konsep dari Teori Neo-Freud yaitu menekankan bahwa manusia berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat dan masyarakat membantu individu dalam memenuhi kebutuhan dan tujuannya. Teori ketiga yaitu Teori Ciri. Teori Ciri merupakan manifestasi sifat atau karakteristik yang membedakan antara satu individu dengan individu lain yang bersifat permanen dan konsisten. Teori Ciri mengklasifikasikan manusia ke dalam karakteristik atau sifat atau cirinya yang paling menonjol.

 

Based on Based on Consumer Behavior Text Book by Ujang Sumarwan

Perilaku konsumen adalah aktivitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi, dan membuang barang atau jasa (Blackwell et al  2001).  Perilaku konsumen sendiri dapat di definisikan sebagai interaksi dinamis dari pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana manusia melakukan pertukaran aspek hidupnya. Dengan kata lain perilaku konsumen mengikutkan pikiran dan perasaan yang dialami manusia dan aksi yang dilakukan saat proses konsumsi. Karateristik kepribadian yaitu kepribadian menggambarkan perbedaan individu, kepribadian menunjukkan konsistensi daan berlangsungnya lama, dan kepribadian dapat berubah.

picture2 Picture2_2

Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.

Lecturers of Consumer Behavior Class Semester  Feb – May  2013

ž  Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSC (www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

Dr. Ir Lilik Noor Yuliati

ž  Ir. Retnaningsih, MS

ž  Megawati Simanjuntak, SP, MS

Department of Family and Consumer Sciences

College of Human Ecology

Bogor Agricultural University

Mungkin kau tak tahu berapa helai sayap camar yang patah, menunggumu di belantara dramaga ini
betapa ranting yang renta terpatah-patah menopang waktu
aku menunggu detik-detik yang telah dijanjikan

mengapa Aku mesti lupakan (?)

karena
karena Berulang-ulang, aku putus tertatih-tatih menaklukkan jalan yang menciptakan luka
di telapak kaki telanjang
sebab kesabaran adalah bulir-bulir zikir yang kuucap tanpa henti
di tiap hening malam, di tetes-tetes embun pagi yang kau kirim dari sana
ia sebentuk hati, namun tak berarti

akh…lupakan.
Berkali-kali aku mengigaukan kekandasan di sela tidur
tertegun pada masa lalu yang terlanjur ku pahat bersamamu
meronta-ronta pada kenangan yang berusaha kuhapus di dinding kamar hatimu
sebab aku terlanjur terpatri, dan kau ingin pergi

Aku sadar, aku telah menahan peristaltik di kerongkonganmu,
memaksamu terdiam bukan karena kelu tapi karena kau takut kehilangannya

Lalu beberapa sinar mata terkirim menancap ke hatiku
mengutuk rutuk membuat aku terpuruk
seolah aku makhluk paling buruk
siapa pula yang berani memberi maaf pada seonggok kotoran yang terlempar tepat di wajah

Aku mengerti, Aku yang harusnya pergi,

pergi dan melupakan semua ini.

Dulu, saat renda-renda kasih masih terjalin syahdu di susuran jalan yang kita lalui.
Begitu erat kau genggam tanganku, mengikat setiap sendi-sendi dari jari-jariku yang rapuh
Seandainya tubuhku tak berbalut epitel, mungkin darahmu dan darahku akan menyatu
karena dulu, kau menjadi seseorang yang lebih dari sekedar kukenal.

selanjutnya, aku tiba-tiba menjadi seseorang asing di tengah derai tawamu
berbalut kostum indah dan berbungkus megah hiruk pesta
kau bahkan tak menolehku sejenak

kau memang tak lagi membutuhkan aku
telah ada hati yang kini memilikimu
dan kamu senang ketika semua berakhir
di antara kita

Perpisahan itu, bagiku, bukanlah akhir dari sebuah persahabatan
tak bisakah kita menjadi seperti teman yang bisa bercanda
atau setidaknya, aku bisa bertanya tentang kepalamu yang sering berdenyut
atau aku bertanya ibumu, ayahmu atau keluargamu
atau mungkin juga kau bertanya tentang masa depanku yang sering mengerutkan keningmu

Sebenarnya, aku begitu juga kau, terlalu muda untuk mengenal semua kerikil-kerikil yang bertabur di rel-rel kereta kenangan kita
mungkin Tak usah ku simpan tiap jumput memori-memori indah yang pernah kita tanam
sebab hanya akan mengoyak tawa yang ku siram
sebab hanya akan mengubah derai gelak menjadi derai tegun yang dalam

Biarlah, aku mengenangmu sebagai orang yang pernah aku kenal
kini aku nampaknya dituntut menyimpan segenap rindu pada sebotol anggur kosong
lalu menghanyutkannya ke laut tak bernama
agar aku dan kau tak pernah lagi saling menyapa

Biar…

Sejak cintaku tak lagi mampu menahan lajumu
yang berlalu menyapu bersama angin
seperti biasa aku lelah dan bersujud pasrah
sebab tanah terlalu basah untuk kutumpu pijak
dan dirimu seolah temali liar yang menarikku ke segala arah

Biar…

Kasih, maka kubiarkan kau pergi ke dunia lepas
bersama ego yang selama ini kau hunjuk-hunjuk di depan mataku
aku sayu
aku layu
dan padam bersama amarah yang basah
serupa api tercebur lindap
bagaikan tangis tertahan megap
dan aku gagap
Puisi kehidupan, puisi patah hati
siapa nama kekasih yang mencurimu dariku
yang kau sebut memiliki segunung rindu padamu
dia adalah manusia terkasih terhebatmu
kau mungkin lupa
kau menyebut kalimat yang sama padaku, pernah, dulu, di suatu ketika

di waktu detak-detak jam masih kita hitung bersama
di saat rintik-rintik gerimis kita eja di halaman berdua
tidak kau ingat di masa itu jemari-jemari kita tak pernah bisa melekang
kau dan aku terhanyut pada sebuah rasa tanpa puncak

itu dia datang
dengan kereta kencana dari kutub
dia bisa terbang dan melambungkanmu ke langit ke delapan
dia mampu memelukmu dengan dekap terhangat yang cairkan alaska
ia sanggup patahkan seluruh aral yang memagari semua mimpiku, seperti aku

Tapi ingat sayang
bilang padanya jangan berlari terlalu kencang
awan bisa saja mengeras
angin bisa saja memutingbeliungkan rindu kalian

seperti badai yang tengah berkecamuk di hatiku kali ini
maka kubiarkan kau pergi

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan.

Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa.

Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga.

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

“Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!”

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus